INSANE

Image

INSANE

            Author            : Chyme

            Main cast        : Sena(OC), Key Shinee

            Length            : Ficlet

            Genre             : Sad, Fantasy

            Rating             : PG-16

Poster by       : Ria Ayu Milyana

            Chyme’s note : Kritik dan saran (komentar) sangat di perlukan. Kalau tidak niat koment, tidak usah baca. Happy Reading J

           

            Malam itu, langit begitu hitam nan gelap. Tak tampak sekalipun bulan di antaranya. Mungkin hanya ada beberapa titik-titik terang saja yang menggantung lengket di langit, mencercahkan sedikit cahaya di sekitarnya. Sena mendongak menatap langit. Matanya yang sipit mengamati taburan titik-titik terang itu dengan raut sendu. Pikirannya melayang bebas seolah dapat menyentuh bintang di depan pandang matanya, dan seketika berhenti  saat pikirannya menyentuh kenyataan pilu. Ia menghela nafasnya berat, pikiran-pikiran buruk itu selalu menghantui malamnya, bahkan ketika kenangan-kenangan indah itu melayang-layang, kenyataan buruk lain datang  seolah menepis semua kenangan-kenangan yang selalu ia jadikan sebagai penenang hati.

            Sena merebahkan tubuhnya begitu saja di hamparan rumput kebun belakang rumahnya. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi dan dipejamkan kedua matanya. Aroma malam yang basah langsung menyentuh paru-parunya ketika ia menarik nafas. Dan tak terasa, bulir-bulir air matanya jatuh mengaliri kedua pipi putihnya. Entah apa yang sedang ia tangisi, tapi yang jelas, dadanya begitu sesak dan semakin bergetar ketika ia memikirkan laki-laki yang selalu menemani hari-harinya itu, kini tak ada lagi di dekatnya. Ia tahu perasaan seperti apa yang sedang ia rasakan selama ini kepada laki-laki itu, tapi Sena hanya diam dan membiarkan perasaan itu tumbuh berkembang meskipun ia tahu, bahwa jerat hukum sedang mengawasinya. Sena semakin bingung, suara tangisan yang sebelumnya tertahan kini perlahan mulai terdengar. Ia terisak. Di turunkannya kedua tangannya kasar hingga menimbulkan debaman kecil di antara rerumputan di samping tubuhnya. Perasaannya begitu kacau. Laki-laki itu adalah laki-laki yang dulu kecil selalu tinggal bersamanya, menemaninya bermain dan tempatnya mencurahkan segala pikiran-pikiran aneh yang ada di otaknya. Bahkan laki-laki itu telah mengikat janji bahwa ia tidak akan meninggalkan Sena barang sejengkal saja ketika menyadari bahwa ia bukanlah anak kandung dari keluarga Sena.

            Tapi itu semua berubah, janji itu palsu, janji itu teringkari. Laki-laki itu membuat Sena jatuh hati kepadanya begitu dalam, hingga membuat Sena merasa bersalah dan tersiksa karena tak memahami peraturan hukum dari agama yang dianutnya. Sena bodoh. Dia hampir gila. Laki-laki itu kini pergi begitu saja, meninggalkannya dengan alasan demi kebaikan mereka berdua. Bahkan ketika ia tahu bahwa Sena sedang berbadan dua, laki-laki itu tetap pergi meninggalkannya. Hatinya hancur dan melebur bersama dengan kenangan-kenangan yang dulu pernah dibuatnya bersama laki-laki itu. Ia kini tak bisa mengendalikan semua emosinya. Kerinduan dan keterputusasaan yang dirasakannya telah membelenggu semua kerja saraf otaknya. Kedua orangtuanya juga telah menenangkannya dan menjaganya agar tetap aman di dalam rumah tanpa kehadiran anak angkat mereka yang biadab itu.

            Sena tiba-tiba menjerit begitu kencang. Lengkingan suaranya menyebar ke seluruh penjuru rumah. Ia menghentak-hentakkan tubuhnya di atas rerumputan dan menggulingkan tubuhnya kesana kemari. Pikirannya kacau, bayangan-bayangan laki-laki itu terus menghantui setiap pikirannya, bahkan hampir membuatnya tak sanggup membuka mata.  Kedua tangan Sena memukul-mukul perut di bagian bawahnya, merasa tidak terima dengan keadaan yang telah di alaminya kini. Ia menepis semua tangan-tangan yang menghentikkan gerakannya itu dan berteriak-teriak , seolah memberitahukan bahwa begitu kacaunya ia saat ini. Bahkan ibunya hanya bisa menangis dan menatap lemas anaknya ketika suaminya menyarankan agar Sena dirawat di rumah sakit jiwa.

            Hari-hari Sena di kamar barunya begitu mengerikan. Disana hanya ada satu tempat tidur beserta nakas di samping kanannya. Pemandangan langit malam kini tak tampak sudah di hadapan matanya. Harum rerumputan yang selalu menemani kekacuan hatinya juga tak mungkin lagi hadir di indra penciumannya. Hanya bau obat-obatan dan teriakan-teriakan kencang yang selalu Sena dengar di tempat barunya. Ini membuat perasaan Sena semakin tidak karuan dan pikirannya semakin linglung. Tak ada sekalipun benda ataupun suasana yang mendukungnya untuk menenangkan diri. Semuanya malah semakin membuat Sena frustasi. Sena tak habis fikir, kenapa kedua orang tuanya membawanya kemari. Apakah Sena sudah begitu mengganggu hidup mereka, ataukah, mereka malu dengan keadaan Sena? Kenapa mereka melakukan hal ini padanya. Ia tidak gila, sama sekali tidak gila. Kenapa mereka membiarkannya sendirian terkurung dalam ruangan kecil ini? Kenapa?

            Sena menjerit kencang, pikiran-pikiran seperti itu tidak boleh ada dibenaknya. Ia menendang-nendang tepian tempat tidur dengan kerasnya, tak memperdulikan betapa sakit yang ia rasakan. Pikiran-pikiran buruk seperti itu harus pergi dari otaknya. Tangannya yang sekarang diikat dengan tepian tempat tidur juga ditarik-tariknya agar terlepas. Seolah dengan kedua tangannya ia bisa mengusir semua pikiran-pikiran buruk itu. Tapi itu semua sia-sia saja, tubuhnya tiba-tiba kaku ketika sesuatu telah masuk dan menjalari aliran darahnya. Matanya semakin berat dan semua yang berkelebat dipikirannya hilang dan menghitam.

            “Sena? Sena?”

            “…”

            “Sena? Bangunlah.”

            “…” Sena mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, cahaya putih yang begitu menyilaukan tiba-tiba menusuk di kedua matanya. Terasa berat.

           “Hei! Sena! Bangunlah! Apa kau tuli sekarang?”

            Sena tersentak. Matanya terpaksa terbuka lebar. Suara itu, suara yang selalu membangunkan tidur siangnya ketika dirinya tertidur di ayunan belakang rumah.

            “Hei? Syukurlah kau masih hidup.”

            “K-Key?” Sena mengucek kedua matanya kasar. Seolah tidak percaya bahwa laki-laki yang begitu ia rindukan tiba-tiba berada di sampingnya dan membantunya berdiri. Entah mengapa, rasa benci yang dulu pernah ia berikan pada Key tiba-tiba lenyap begitu saja ketika laki-laki itu tersenyum hangat untuknya, menggenggam tangannya dan memeluknya erat seperti yang selalu ia lakukan dulu.

            “Sudah lama sekali aku tidak melihat wajah cantikmu. Apa kau baik-baik saja?” ucap Key lirih, tangan kirinya membelai pelan rambut Sena.

             Sena semakin mengeratkan pelukannya. Dihirupnya dalam-dalam aroma parfum Key. Ia tak mau kehilangan Key lagi. Kemarin adalah yang terakhir matanya tidak dimanjakan oleh kehadiran Key.

            “See, aku menepati janjiku kan? Aku akan bertanggung jawab kepadamu dan kedua orang tuamu.” Bisik Key lembut. Sena mengangguk dalam pelukann Key. Rasa khawatir dan takut yang dulu selalu membelenggunya kini seolah-olah melebur dengan perasaan lega yang begitu besar. Impiannya hidup selamanya bersama Key kini tampak di depan mata.

            “Ikutlah denganku Sena, pergilah bersamaku, hiduplah bersamaku selamanya.” Sena mendongakkan kepalanya. Kedua matanya menatap nanar wajah tampan Key. Key tersenyum lembut. Membelai pelan rambut wanita di depannya dengan penuh kasih sayang.

            “Aku akan selalu bersamamu Key, aku mencintaimu.” Jawab Sena lirih. Air matanya turun perlahan. Menampakan ketulusan yang mendalam terhadap laki-laki yang dicintainya itu. Key tersenyum, sebelah tangannya menghapus air mata Sena dan memeluknya lagi dengan erat, sangat erat, seolah tidak ada yang boleh membawa Sena pergi dari sisinya.

             Sena perlahan menggenggam erat cardigan hitam milik Key, entah mengapa pelukan laki-laki itu begitu erat. Kepalanya hampir tak bisa bergerak untuk mencari oksigen. “K-Key…L-lepas-kan..aku.” ucap Sena terbata-bata. Tangannya mulai meronta-ronta minta di lepaskan, tapi Key malah mengeratkan pelukannya. Dada Sena terasa sesak, ia menangis, kali ini ia benar-benar tidak bisa bernafas.

             “Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu, kau harus ikut kemanapun aku pergi, kita akan hidup bersama selamanya. Maafkan aku yang dulu mengakhiri hidup karena takut telah menghamilimu. Aku akan bertanggung jawab untukmu, Sena.”

 FIN~

Sama seperti yang di atas. Mohon keikhalasannya buat koment.

Advertisements

2 thoughts on “INSANE

  1. Duh duh duh, ini juga ceritanya tentang love yah ? bagus bagus ! tapi kurang panjang ! eeh aku request dong ! bikinin FF yang galau banget ya ! sampek aku nangis. Mumumu :*

    • Iya kan ficlet gitu..makanya pendeks 😀
      yang galau banget?? duh, chym lagi ongoing yg ceria-ceria nih, gimana ya? Kapan-kapan aja kalau inget deh 😛
      Makasih ya, udah baca n komment :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s